Jika...

Jika Cobaan sepanjang Sungai, maka Kesabaran itu seluas Samudra. Jika Harapan sejauh Hamparan Mata memandang, maka Tekad mesti seluas Angkasa membentang. Jika Pengorbanan sebesar Bumi, maka Keikhlasan harus seluas Jagad Raya.

Selasa, 21 Oktober 2014

Novel: Ayah, Lelaki Itu Mengkhianatiku...


Penulis: Dian Nafi
Penerbit: DIVA Press
Jumlah Halaman: 208 halaman
Cetakan Pertama: Mei 2013

Aku baru saja selesai membaca bukunya mba Dian Nafi "Ayah, Lelaki Itu Mengkhianatiku...: Kenapa Kau Menikamku, Sayang?!" Meskipun agak telat karena novel ini  terbit Mei 2013 silam. Yah, namanya juga baru nemu di Perpustakaan Kota. Termasuk buku baru di sini, hehehe...

Novel ini bercerita tentang Ratri, seorang Ibu Rumah Tangga muda. Ia baru saja lulus SMA saat menikah. Setelah aku hitung-hitung usianya sekitar 33 tahun, mengetahui usia pernikahannya saja hampir 15 tahun.

Ratri seorang wanita Jawa dengan kekhasan sifat lembut dan nrimonya itu suatu saat terluluhlantakkan hatinya demi mendengar kabar bahwa suaminya, Mas Ir yang polos itu, berselingkuh. Dia dibalas perselingkuhan sang Suami setelah pengorbanannya yang telah begitu besar selama lima belas tahun pernikahan.
Siapa yang bisa tenang dengan keadaan sepertiku? Susah payah merawat anak-anaknya, rumahnya, ayahnya, ibunya, keluarga besarnya yang dari luar tampak terhormat tetapi sebenarnya kacau. Sedemikian besar pengorbananku, dan inikah balasannya?!
**aku membayangkan betapa menderitanya sosok Ratri ini**

Padahal suaminya adalah sosok lelaki yang baik, dididik dengan ajaran agama yang cukup, berpendidikan, dan sukses dalam karir. Sosok lelaki yang tidak neko-neko, bahkan sangat tak berpengalaman dengan perempuan. Lalu bagaimanakah lelaki polos itu bisa berselingkuh?

Aku setuju kalau waktu itu dia memang sedang apes. Apes yang didapat karena rasa kasihannya. Atau mungkin karena kebodohannya, seperti kata-kata Ratri saat dia sedang berada di puncak amarahnya. Ya, aku juga setuju kalau dia memang bodoh. Lagipula kucing mana yang tak akan memakan ikan yang dengan sengaja disediakan? Ini lagi-lagi katanya Ratri, hehehe...

Saat Ratri baru saja mengetahui kelakuan suaminya, saat-saat dia sedang mengamuk membadai pada suaminya yang menciut itu, di sanalah justru aku membaca dengan tertawa-tawa, geli. Kupikir aku akan bisa merasakan apa yang Ratri rasakan saat itu. Tapi dia justru sukses membuatku tertawa. Adegan itu sangat lucu.
"Kenapa tidak kau usir saja? Kasih uang dan suruh dia pergi. Beres!" Belum lagi pesakitan di depanku menjawab, telah kuberondong dengan pertanyaan dan tuduhan-tuduhan berikutnya.
"Dia mengaku kemalaman dan kehabisan uang. Tidak punya tempat tinggal karena terusir dari rumah kos yang belum dibayar." Lelaki pengkhianat itu kembali bicara.
"Lha, memangnya kamu Dinas Sosial?" Kata sapaan "mas" entah ke mana, hilang ditelan kemarahanku yang memuncak.
"Dia meminta diizinkan menginap semalam saja."
"Tapi kamu kan laki-laki!" sahutku, cepat dan pedas.
Dia terdiam lagi. Berpikir keras, kurasa.
Memang, laki-laki yang tergoda perempuan hampir pasti sudah tidak punya otak lagi. 
Hahaha... Itu salah satu yang bikin aku ngakak. Ada di Bab 7: Mengguntur halaman 75. Aku bisa membayangkan betapa bersemangatnya Ratri yang biasanya lemah lembut itu memuntahkan lahar panas dari mulutnya. Kasihan juga mas Ir itu, hehe...

 Aku sempat mengira novel ini akan happy ending. Sempat di-PHP-in saat membaca kalau mas Ir itu tiba-tiba senang berdendang, lagunya Jason Mraz "I Won't Give Up." Si mas Ir sedikit berubah dari lelaki kaku dan pendiam menjadi lelaki menampakkan kesungguhan cintanya pada sang Istri terang-terangan. Kukira keduanya bakalan menyadari bahwa mereka memang saling mencintai beneran, bukan lagi bersama karena dulunya dijodohkan, tapi benar-benar cinta! Tapiiiii.... ternyata lumayan menggantung, bahkan siap-siap untuk penderitaan selanjutnya: Ratri tertular penyakit kelamin dari suaminya yang sudah selingkuh itu. Ampun deh, kasian amat yaaa...

Tapi itu mungkin hanya pandangan orang awam sepertiku saja. Inilah sisi menarik dari dunia tulis-menulis yang belum kuketahui. Penulis adalah Tuhan bagi tulisannya. Ia berhak membuatnya begini dan begitu. Dan mungkin aku ini masih terlalu idealis, maunya akhir yang bahagia saja, hehehe...

Tema Rumah Tangga dan Perselingkuhan seperti ini selalu menarik. Karena realitanya juga tak selalu bahagia, jadi bijak juga mba Dian Nafi menyuguhkan realita ini juga ke dalam tulisannya. Biar kita-kita para pembaca apalagi yang masih single, bisa lebih berhati-hati nantinya. Daaaan... Peringatan juga nih buat para Istri dan calon Istri, bahwa pasangan kita itu bukan sepenuhnya milik kita. Selayaknya anak dan segala sesuatu yang ada di muka bumi ini, pasangan juga hanya titipan Tuhan. Dia bisa diambil kapan saja, bisa membuat kesalahan-kesalahan yang membuatmu tak habis pikir, maka karenanya serahkan saja dia pada Tuhan. Dan pada Tuhanlah seharusnya cinta yang paling purna kita persembahkan...

Tiga Bintang deh buat Ayah, Lelaki Itu Mengkhianatiku... Sukses dan terus berkarya, mba Dian Nafi ^_^

Senin, 27 Juni 2011

Wanita Suci (Suara Hati Seorang Ikhwan)

Wanita suci,

Mungkin aku memang tak romantis tapi siapa peduli ?
Karena toh kau tak mengenalku dan memang tak perlu mengenalku
Bagiku kau bunga, tak mampu aku samakanmu dengan bunga terindah sekalipun
Bagiku manusia adalah makhluk yang terindah,tersempurna dan tertinggi
Bagiku dirimu salah satu dari semua itu, karenanya kau tak membutuhkan persamaan

Wanita suci,
Jangan pernah biarkan aku menatapmu penuh, karena membuatku mengingatmu
Berarti memenuhi kepalaku dengan inginkanmu
Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap dinding khayalku
Membuatku inginkanmu sepenuh hati, seluruh jiwa, sesemangat mentari
Kasihanilah dirimu jika harus hadir dalam khayalku yang masih penuh lumpur
Karena sesungguhnya dirimu terlalu suci

Wanita suci,
Berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan mimpi tak berujung
Ada ingin tapi tak ada henti
Menyentuhmu merupakan ingin diri, berkelebat selalu, meski ujung penutupmu pun tak berani kusentuh
Jangan pernah kalah dengan mimpi dan inginku karena sucimu kau pertaruhkan
Mungkin kau tak peduli
Tapi kau hanya menjadi wanita biasa dihadapanku bila kau kalah
Dan tak lebih dari wanita biasa

Wanita suci,
Jangan pernah kau tatapku penuh
Bahkan tak perlu kau lirikkan matamu untuk melihatku
Bukan karena aku terlalu indah, tapi karena aku seseorang yang masih kotor
Aku biasa memakai topeng keindahan pada wajah burukku, mengenakan pakaian sutra emas
Meniru laku para rahib, meski hatiku lebih kotor dari lumpur
Kau memang suci, tapi masih sangat mungkin kau termanipulasi
Karena kau toh hanya manusia, hanya wanita

Wanita suci,
Beri sepenuh diri pada dia sang lelaki suci yang dengan sepenuh hati membawamu kehadapan Tuhanmu
Untuknya dirimu ada, itu kata otakku, terukir dalam kitab suci, tak perlu dipikir lagi
Tunggu sang lelaki itu menjemputmu, dalam rangkaian khitbah dan akad yang indah
Atau kejar sang lelaki suci itu, karena itu adalah hakmu, seperti dicontohkan ibunda Khadijah
Jangan ada ragu, jangan ada malu, semua terukir dalam kitab suci

Wanita suci,
Bariskan harapanmu pada istikharah sepenuh hati ikhlas
Relakan Allah pilihkan lelaki suci untukmu, mungkin sekarang atau nanti, bahkan mungkin tak ada sampai kau mati
Mungkin itu berarti dirimu terlalu suci untuk semua lelaki di fana saat ini
Mungkin lelaki suci itu menanti di istana kekalmu, yang kau bangun dengan segala kekhusyu'an tangis do'amu

Wanita Suci,
Pilihan Allah tak selalu seindah inginmu, tapi itu pilihan-Nya
Tak ada yang lebih baik dari pilihan Allah
Mungkin kebaikan itu bukan pada lelaki yang terpilih itu, melainkan pada jalan yang kau pilih, seperti kisah seorang wanita suci yang meminta ke-Islam-an sebagai mahar pernikahannya
Atau mungkin kebaikan itu terletak pada keikhlasanmu menerima keputusan Sang Kekasih Tertinggi
Kekasih tempat kita memberi semua cinta dan menerima cinta dalam setiap denyut nadi kita 
(Anonim)

Rabu, 15 Juni 2011

Ketika Bidadari Turun Ke Bumi

Dalam buku Tamasya ke Surga, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengisahkan tentang bidadari-bidadari surga. Bidadari-bidadari itu adalah wanita suci yang menyenangkan dipandang mata, menyejukkan dilihat, dan menentramkan hati setiap pemiliknya. Rupanya cantik jelita, kulitnya mulus. Ia memiliki akhlak yang paling baik, perawan, kaya akan cinta dan umurnya sebaya. Siapakah yang orang yang beruntung mendapatkannya? Siapa lagi kalau bukan orang-orang yang syahid karena berjihad di jalan Allah, orang-orang yang tulus dan ikhlas membela agama Allah.

Sebagian kita mungkin berfikir, kapan kita berjumpa dengan bidadari-bidadari itu, apakah ia akan kita miliki, adakah ia sedikit diantara mereka mendiami bumi sekarang ini?
Bidadari-bidadari itu telah turun ke bumi. Semenjak Islam mulai bangkit lagi di bumi ini. Bidadari-bidadari itu menghias diri setiap hari. Dia berwujud manusia yang berhati lembut, menyenangkan dipandang mata, menyejukkan dilihat, menentramkan hati setiap pemiliknya. Dialah wanita sholehah yang menjaga kesucian dirinya. Seperti apakah bidadari bumi itu? Bisakah kita mengikuti langkahnya, apakah dia anak, adik, keponakan perempuan atau apakah ia istri dan ibu kita, atau ia hanya berupa angan yang sebenarnya bisa kita realisasikan, tapi syetan kuat menahan?

Dialah wanita sholehah yang menjaga kesucian dirinya. Setiap perempuan bisa menjadi bidadari bumi, seperti apakah ciri-cirinya?
1.            Ia adalah wanita yang paling taat kepada Allah. Ia senantiasa menyerahkan segala urusan hidupnya kepada hukum dan syariat Allah.
2.      Menjadikan Al-Quran dan Al-Hadis sebagai sumber hukum dalam mengatur seluruh aspek kehidupannya.
3.       Ibadahnya baik dan memiliki akhlak serta budi perketi yang mulia. Tidak hobi berdusta, bergunjing dan ria.
4.          Berbuat baik dan berbakti kepada orang tuanya. Ia senantiasa mendoakan orang tuanya, menghormati mereka, menjaga dan melindungi keduanya.
5.    Ia taat kepada suaminya. Menjaga harta suaminya, mendidik anak-anaknya dengan kehidupan yang islami. Jika dilihat menyenangakan, bila dipandang menyejukkan, dan menentramkan bila berada didekatnya. Hati akan tenang bila meninggalkanya pergi. Ia melayani suaminya dengan baik, berhias hanya untuk suaminya, pandai membangkitkan dan memotifasi suaminya untuk berjuang membela agama Allah.
6.        Ia tidak bermewah-mewah dengan dunia, tawadhu, bersikap sederhana. Kesabarannya luar biasa atas janji-janji Allah, ia tidak berhenti belajar untuk bekal hidupnya.
7.     Ia bermanfaat dilingkungannya. Pengabdianya kepada masyarakat dan agama sangat besar. Ia menyeru manusia kepada Allah dengan kedua tangan dan lisannya yang lembut, hatinya yang bersih, akalnya yang cerdas dan dengan hartanya. "Dan dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah". (HR Muslim)


Dialah bidadari bumi, dialah wanita sholehah yang keberadaan dirinya lebih baik dan berarti dari seluruh isi alam ini. Ya Allah jadikanlah aku, ibuku, kakak dan adiku serta perempuan-perempuan di sekelilingku menjadi bidadari bumi. Agar kelak di syurga kami tidak canggung lagi.

By: Yesi Elsandra

Wanita Itu Mutiara

Woman was made from the rib of man, She was not created from his head to top him, Not from his feet to be stepped upon, She was made from his side to be close to him, From beneath his arm to be protected by him, Near his heart to be loved by him.

Bagaimana perasaan seorang pria jika dikelilingi banyak wanita? Jika pertanyaan itu disodorkan kepada saya, maka ungkapan “bangga” nampaknya cukup mewakili perasaan saya. Saya senang setiap hari dikelilingi wanita cantik, shalihah pula. Dan tentu pada saat itu saya semakin merasa menjadi ‘pangeran’. Ups, jangan curiga dulu, karena wanita-wanita cantik nan shalihah yang saya maksud adalah istri dan dua anak saya yang keduanya ‘kebetulan’ wanita. Insya Allah.

Tidak hanya itu, sebelum saya menikah, saya juga lebih banyak disentuh oleh wanita, yakni ibu karena semenjak usia enam tahun saya memilih untuk ikut ibu saat ia bercerai dengan ayah. Sebuah naluri kedekatan anak terhadap ibunya yang tidak sekedar karena telah menghisap ratusan liter air susu ibunya, melainkan juga ikatan bathin yang tak bisa terpisahkan dari kehangatan yang senantiasa diberikan seorang ibu terhadap anaknya.

Karena itulah, dalam hidup saya tidak ingin berbuat sesuatu yang sekiranya dapat menge-cewakan dan melukai seorang wanita. Namun sikap yang tepat dan bijak harus diberikan seorang pria mengingat wanita itu terbuat dari tulang rusuk yang bengkok, yang apabila terdapat kesalahan padanya, pria harus berhati-hati meluruskannya. Terlalu keras akan mematahkannya, dibiarkan juga salah karena akan tetap pada kebengkokannya. Meski demikian, tidak sedikit pria harus membiarkan wanita kecewa demi meluruskan kesalahan itu, toh setiap pria yang melakukan itu pun sangat yakin bahwa kekecewaan itu hanya sesaat kerena selanjutnya akan berbuah manis.

Wanita itu ibarat bunga, yang jika kasar dalam memperlakukannya akan merusak keindahannya, menodai kesempurnaannya sehingga menjadikannya layu tak berseri. Ia ibarat selembar sutra yang mudah robek oleh terpaan badai, terombang-ambing oleh hempasan angin dan basah kuyup meski oleh setitik air. Oleh karenanya, jangan biarkan hatinya robek terluka karena ucapan yang menyakitkan karena hatinya begitu lembut, jangan pula membiarkannya sendirian menantang hidup karena sesungguhnya ia hadir dari kesendirian dengan menawarkan setangkup ketenangan dan ketentraman. Sebaiknya tidak sekali-kali membuatnya menangis oleh sikap yang mengecewakan, karena biasanya tangis itu tetap membekas di hati meski airnya tak lagi membasahi kelopak matanya.

Wanita itu mutiara. Orang perlu menyelam jauh ke dasarnya untuk mendapatkan kecantikan sesungguhnya. Karenanya, melihat dengan tanpa membuka tabir hatinya niscaya hanya semu sesaat yang seringkali mampu mengelabui mata. Orang perlu berjuang menyusur ombak, menahan arus dan menantang semua bahayanya untuk bisa meraihnya. Dan tentu untuk itu, orang harus memiliki bekal yang cukup sehingga layak dan pantas mendapatkan mutiara indah itu.


Wanita itu separuh dari jiwa yang hilang. Maka orang harus mencarinya dengan seksama, memilihnya dengan teliti, melihat dengan hati-hati sebelum menjadikannya pasangan jiwa. Karena jika salah, ia tidak akan menjadi sepasang jiwa yang bisa menghasilkan bunga-bunga cinta, melainkan noktah merah menyemai pertikaian. Ia tak akan bisa menyamakan langkah, selalu bertolak pandang sehingga tak memberikan kenyamanan dan keserasian. Ia tak mungkin menjadi satu hati meski seluruh daya dikerahkan untuk melakukannya. Dan yang jelas ia tak bisa menjadi cermin diri disaat lengah atau larut.

Wanita memiliki kekuatan luar biasa yang tak pernah dipunyai lawan jenisnya dengan lebih baik. Yakni kekuatan cinta, empati dan kesetiaan. Dengan cintanya ia menguatkan langkah orang-orang yang bersamanya, empatinya membangkitkan mereka yang jatuh dan kesetiaannya tak lekang oleh waktu, tak lebur oleh perubahan.

Dan wanita adalah sumber kehidupan. Yang mempertaruhkan hidupnya untuk sebuah kehidupan baru, yang dari dadanya dialirkan air susu yang menghidupkan. Sehingga semua pengorbanannya itu layak menempatkannya pada kemuliaan surga, juga keagungan penghormatan. Tidak berlebihan pula jika Rasulullah menjadi seorang wanita (Fathimah) sebagai orang pertama yang kelak mendampinginya di surga.

Untung saya bukan penyanyi ngetop yang menjadikan wanita dan cintanya sebatas syair lagu demi meraup keuntungan. Sehingga yang tampak dimata hanyalah wanita sebatas bunga-bunga penghias yang bisa dicampakkan ketika tak lagi menyenangkan. Kebetulan saya juga bukan bintang sinetron yang kerap diagung-agungkan wanita. Karena kalau saya jadi mereka, tentu ‘kebanggaan’ saya dikelilingi wanita cantik bisa berbeda makna dengan kebanggaan saya sebagai seorang yang bukan siapa-siapa.

Bagusnya juga wanita-wanita yang mendekati dan mengelilingi saya bukanlah mereka yang rela diperlakukan tidak seperti bunga, bukan selayaknya mutiara dan tak selembut sutra. Bukan wanita yang mencampakkan dirinya sendiri dalam kubangan kehinaan berselimut kemewahan dan tuntutan zaman. Tidak seperti wanita yang rela diinjak-injak kehormatannya, tak menghiraukan jerit hatinya sendiri, atau bahkan pertentangan bathinnya. Juga bukan wanita yang membunuh nuraninya sendiri sehingga tak menjadikan mereka wanita yang pantas mendapatkan penghormatan, bahkan oleh buah hatinya sendiri.


Dan sudah pasti, selain tak ada wanita-wanita macam itu yang akan mendekati lelaki bukan siapa-siapa seperti saya ini, saya pun tentu tidak akan betah berlama-lama berdekatan dengan mereka, apalagi bangga. Semoga …


By: Bayu Gautama

Bunga Istimewa Hanya Untuk Yang Istimewa

Bunga adalah simbol kesegaran, keceriaan dan kebahagiaan. Bisa jadi ada makna yang lebih dalam dari penamaan Rasulullah atas putri tercintanya, Fatimah Az Zahra. Az Zahra sendiri berarti “bunga”. Tidaklah mengherankan jika Fatimah menjadi anak yang paling disayang dibanding saudara-saudara Fatimah lainnya. Hal itu terlihat dari ungkapan Rasulullah, “Siapa yang membuatnya sedih, berarti juga membuat aku sedih, dan barang siapa menyenangkannya, berarti menyenangkanku pula”.

“Bunga” Fatimah yang tumbuh dan berkembang dalam binaan langsung dari ayahanda Rasul yang baik, lemah lembut dan terpuji menjadikannya seorang gadis yang juga penuh kelembutan, berwibawa, mencintai kebaikan plus akhlak terpuji meneladani sang ayah. Maka tidaklah aneh, bunga yang dinisbatkan Rasul menjadi wanita penghulu surga itu menjadi primadona di kalangan para sahabat Rasulullah.

Tercatat, beberapa sahabat utama seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab pernah mencoba melamar Fatimah. Hanya saja, sayangnya dengan halus Rasulullah menolak lamaran para sahabat itu. Hingga akhirnya datanglah Ali bin Abi Thalib untuk meminang Fatimah. “Aku mendatangi Rasulullah untuk meminang putri beliau, yaitu Fatimah. Aku berkata: Demi Allah aku tidak memiliki apa-apa, namun aku ingat kebaikan Rasulullah, maka aku beranikan diri untuk meminangnya”. Akhirnya, Rasulullah pun menerima pinangan Ali meski hanya mempersembahkan baju besi al khuthaimah (yang juga merupakan pemberian Rasul).

Fatimah adalah bunga yang terpelihara, tidak tanggung-tanggung yang mendidik, membina, memeliharanya adalah manusia agung nan mulia Muhammad Rasul Allah, yang memiliki segala keterpujian. Bunga yang indah dengan segala keistimewaannya, harus dipelihara dan dijaga oleh orang yang istimewa dan memiliki berbagai kelebihan pula, dalam hal ini Ali bin Abi Thalib. Siapa yang meragukan kapasitas Abu Bakar dan Umar bin Khattab, yang keduanya kemudian berturut-turut menjadi khalifah meneruskan perjuangan kaum muslimin menggantikan Rasul.

Lalu kenapa ayahanda sang bunga itu menolaknya?

Pertanyaan selanjutnya, kenapa Ali yang hanya bermodalkan baju besi (yang juga pemberian Rasul) menjadi pilihan Rasul untuk mendampingi Fatimah? Meski memang Rasulullah yang paling tahu alasan itu (termasuk juga alasan menolak pinangan dua sahabat yang juga istimewa), namun kita bisa melihat sisi kelebihan dari Ali bin Abi Thalib, pemuda pemberani ini. Ali adalah lelaki istimewa, masuk dalam assabiquunal awwaluun (golongan pertama yang masuk Islam) dengan usia termuda. Soal keberanian, jangan pernah menyangsikan lelaki satu ini. Perang badar yang diikuti oleh seluruh manusia pemberani didikan Rasul, terselip satu lelaki muda yang dengan gagahnya maju ke depan ketika seorang pemuka dan ahli perang kaum kafir menantang untuk berduel. Meski awalnya dilecehkan karena dianggap masih kecil, namun Ali dengan kehebatannya mampu mengalahkan musuh duelnya itu.

 Tidak sampai disitu, yang membuat Rasulullah tak bisa melupakannya adalah jasa besar dan keberanian Ali menggantikan Rasul tidur di pembaringannya saat Rasulullah ditemani Abu Bakar menyelinap ke luar saat hijrah. Padahal resikonya adalah mati terpenggal oleh balatentara kafir yang telah mengepungnya.

Tentu masih banyak dan tidak akan cukup satu halaman untuk mencatat kelebihan Ali yang menjadikannya begitu istimewa. Satu yang bisa kita tangkap secara jelas, bahwa wanita istimewa memang dipersiapkan untuk lelaki istimewa. Seperti halnya, “bunga” Fatimah yang hanya Ali bin Abi Thalib yang diizinkan Rasulullah untuk memetiknya. Oleh karenanya, jangan pernah berharap akan datangnya seseorang istimewa jika tak pernah menjadikan diri ini istimewa.
Wallahu a’lam bishshowaab


By: Bayu Gautama